URGENSI MENJADI GURU NAHDLIYIN MARHAENIS DI VUCA DAN SOCIETY 5.0 Ideologi, Kebangsaan, Transformasi, dan Inovasi Pendidikan
Keywords:
Guru Nahdliyin, Marhaenis, VucaAbstract
“Menjadi Guru Nahdliyin-Marhaenis” bukan sekadar istilah ganda
yang romantis atau simbolik. Ia adalah identitas ganda yang saling mengu
atkan. Seorang guru Nahdliyin adalah penjaga tradisi keilmuan Islam
Nusantara, penanam nilai Aswaja yang penuh rahmah, tawassuth, tawazun, dan tasamuh. Sedangkan guru Marhaenis adalah pendidik yang berpihak pada kaum kecil, pembela keadilan sosial, dan pelaku pendidikan pembebasan sebagaimana diamanatkan oleh Bung Karno. Keduanya, jika berpadu dalam satu jiwa pendidik, akan membentuk sosok transformasional yang tidak hanya mengajar, tetapi juga mencerahkan, membebaskan, dan membangun bangsa dari akar rumput.
Buku ini disusun sebagai respons terhadap tiga krisis mendasar
dalam pendidikan kita hari ini: krisis ideologis, krisis kebangsaan, dan
krisis transformasi guru dalam menghadapi era digital yang sarat artifi
cial intelligence namun kerap kehilangan arah moral. Guru—yang seharusnya menjadi benteng peradaban —justru sering kali terjebak dalam rutinitas administratif, tuntutan kurikulum, dan tekanan performa, hingga kehilangan kedalaman makna dan arah perjuangannya



